Peran

Tadi pagi saya mengikuti In House Training (IHT) tentang komunikasi yang dipandu oleh tim dari LCC LP3I yang diadakan di kantor saya. Sesi pertama dibawakan a la akademisi oleh Ibu Dian Marhaeni K., M.Si, dosen Akhlaq Komunikasi pada Mata Kuliah Periklanan dan Public Relations di Fakultas Komunikasi Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Antony Susilo dengan gaya motivator atau public speaker. Tanpa membawa materi, hanya bertukar pikiran dan pengalaman yang dikumpulkan secara empiris.

Tulisan ini bukan hendak mengulas soal isi atau materi IHT tersebut. Saya sangat tertarik dengan cerita Pak Antony.

Jadi, saya pernah bertemu dengan Ketua REI Jawa Tengah. Saya bertanya tentang rahasia sukses beliau sampai bisa menduduki posisi saat ini. Beliau lalu bercerita bahwa dulunya hanya bekerja sebagai petani bunga melati.

Bunga melati tersebut diekspor (utamanya) ke Singapura. Dalam jumlah berton-ton. Lalu melihat pangsa pasar yang begitu besar, datanglah pengusaha Malaysia.

Pengusaha itu lalu membeli bibit atau benih bunga melati dari petani lokal dengan harga jauh lebih mahal dari harga pasaran. Tentu saja para petani tertarik, meski para pengekspor melarang dan meyayangkan kejadian tersebut.

“Kalian sih sudah kaya, tapi kami pingin kaya juga!”, ujar Pak Budi menirukan cerita yang dia dapat dari Ketua REI tadi.

Apa dampaknya? Sepuluh tahun setelah kejadian tersebut, Malaysia menjadi pengekspor utama melati ke Singapura dengan harga yang jelas lebih murah dibanding dengan harga dari Indonesia karena (salah satunya) biaya kirim yang lebih rendah.

Kebenaran cerita tersebut memang susah dibuktikan karena minimnya data dan fakta. Dan cara saya dalam menceritakan kembali cerita Pak Antony jelas sangat jauh berbeda, penuh bias dan terdistorsi.

BUKANKAH DULU KITA MENGIRIMKAN GURU KE MALAYSIA? DAN KINI HANYA MENGEKSPOR BURUH?

Tapi satu hal yang harus kita pahami. Bahwa egoisme mungkin menguntungkan kita tapi merugikan orang lain baik sedikit atau banyak, baik cepat ataupun lambat.

Kita boleh benci dengan negara jiran tersebut, tapi jangan asal benci. Semua kekalahan atau ketertinggalan kita dengan pihak lain, seharusnya memecut kita untuk bercermin lalu mengoreksi diri kita.

Karena jika kita terjebak pada ritual membenci saja, kita akan makin terpuruk dan tertinggal. Saya memang tidak berfokus menjalankan hidup saya demi ngurusi negara, kalaupun ada peran saya pastilah sangat sedikit. Saya sadar itu. Sendiri, saya tak berarti.

Tapi yang ingin saya lakukan adalah pesan orang tua saya dulu:

“Jika tak bisa membantu, jangan mengganggu!”

Saya tak ingin menjadi pribadi yang sibuk mencibir tiap kali ada orang lain yang teriak: “demi negara! demi bangsa!” dengan alasan tidak percaya ataupun karena menganggapnya sia-sia. Saya  tak ingin sibuk mengkritisi tanpa melakukan apa-apa.

Negara kita sangat besar. Sangatlah besar. Tak bisa hanya diserahkan kepada pemerintah. Jika kita membenci pemerintah, bukan alasan bagi kita untuk membenci negara kita, bangsa kita. Bukan juga alasan untuk merasa malu menjadi bangsa Indonesia.

Jadi, jika benci dengan pemerintah, singsingkan lengan baju dan lakukan sesuatu demi negaramu. Bukan mati-matian menggulingkannya untuk lalu kaget jika kemudian pemerintahan hanya dikuasai oleh bajingan baru.

Pernah dengar cerita tentang sebuah kerajaan dimana suatu hari sang raja ingin agar masing-masing rakyatnya mengumpulkan sesendok madu? Madu yang sedianya dikumpulkan di sebuah gentong raksasa di alun-alun kerajaan tersebut memang terisi penuh.

Tapi ada seseorang yang berpikir: “Ah! Sayang kalau madu kepunyaanku dikumpulkan untuk raja, lebih baik sendoknya kuisi dengan air. Satu sendok air tentu tak akan berpengaruh pada madu yang dikumpulkan oleh seluruh rakyat bukan?”

Orang tersebut lalu menyetor madu palsunya dan menuangkannya ke gentong raksasa yang telah disediakan. Ketika akhirnya semua telah menyetorkan sendok demi sendok, semua terkejut. Tak ada rasa madu di gentong yang terisi penuh tersebut.

Yang terasa hanyalah air. karena rupanya hampir semua rakyat kerajaan itu berpikir: “Ah, sesendok air tak akan berpengaruh pada segentong madu raksasa!”.

MERDEKA!

 

KETERANGAN GAMBAR: diambil dari sini.

About these ads
1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: