Siang hari, seperti siang hari yang lain di kantor saya. Rekan kerja satu ruangan membahas menu makan siang. Cuaca terlalu terik untuk kami keluar kantor guna makan di luar. Ya, semalas itulah kami, dan seenggan itulah kami tersengat sinar matahari. Nasi Padang, keputusan kami bulat.

Saya lalu memanggil OB untuk mencatat pesanan menu saya dan teman-teman lain, untuk kemudian membelikannya di rumah makan Padang langganan kami. kami lanjut berbincang tentang apa saja, sembari menunggu datangnya nasi Padang kami.

Read More

“Dasar laki-laki gak punya perasaan!”, pernah dengar ungkapan seperti itu? Saya yakin pernah. Ungkapan ini umumnya diucapkan atau ditulis oleh kaum hawa, baik dalam kondisi marah atau obrolan santai bersama koleganya.

Saya tahu tulisan ini akan memicu pertengkaran baru antara saya dan beberapa kawan feminis saya. Tapi setidaknya, bersediakah kalian membacanya hingga ujung?

Read More

Suatu sore, saya ingat bertanya pada mbah kakung saya dari bapak. Saya masih SMP waktu itu. Kakek saya hidup sebatang kara bersama satu cucu laki-lakinya yang ditinggal Ibu kandungnya merantau mencari uang. Usianya simbah kala itu sudah 80-an, namun masih tegap berdiri dan mampu ngambil uang pensiunan dengan berjalan kaki setiap bulannya.

Simbah saya itu orangnya pendiam. Tiap kali saya berkunjung (karena saya tinggal di lain kota), tak banyak yang dilakukannya, selain memastikan apakah saya lapar atau haus, juga menanyakan apakah saya kedinginan atau diganggu nyamuk kala malam hari.

Read More

Belakangan, ngopi itu sebuah hal yang merepotkan. Setidaknya buat saya. Jadi, ngopi itu jadi mirip kehidupan, makin rumit. Cialat tenan!

Apa pasal? Beberapa waktu belakang, saya yang sudah sejak kecil minum kopi, dikagetkan dengan pernyataan: “Jangan ngaku pecinta kopi kalau kopinya kopi sachetan!”. Sejak kecil, saya minum kopi kampung. Kopi tumbukan sendiri. Tak pusing apa jenis kopinya. Pokoknya disangrai lalu ditumbuk dan diayak halus sebagaimana kopi kampung lainnya.

Read More