Mie Goreng Instan

Saya mencoba menggali ingatan saya yang sejatinya tak selalu bisa diandalkan. Dan dengan usaha yang sedemikian kerasnya sehingga sampe-sampe saya membutuhkan waktu dua tiga hari plus nanya via telpon ke Ibu saya, akhirnya saya mendapat sedikit gambaran tentang apa yang sedang saya coba untuk ingat.

Ingat, saya bukan seorang pemikir hebat atau tokoh berpengaruh, sehingga jika apa yang saya coba untuk ingat adalah hal yang sepele tur remeh, ya mohon dimaafkan.

Kapan pertama kali anda menyantap hidangan bernama mie goreng instan?
Kira-kira saya sedang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar ketika saya berkenalan dengan makhluk bernama mie goreng instan.

Saya, juga Bapak, Ibu dan adik perempuan saya sangat kagum dengan mie goreng jenis ini. Pertama, gurih. Kedua, murah. Ketiga, praktis.
Gurih. Untuk keluarga kelas menengah seperti keluarga saya tentu saja menu makanan sehari-hari tak jauh-jauh dari ikan asin, tempe dengan sekian banyaknya variasi olahan (Sembah pangabekti kula, Ibu!), dan telur. Maka ketika muncul makhluk jahanam bernama mie goreng instan, ritme kuliner keluarga saya jadi berantakan.

Sedikit-dikit kami (saya dan adik saya) minta dibuatin mie. Ibu saya ya manut-manut saja. Tak ada lagi tempe goreng, tempe bacem, mendoan, mbes tempe, tempe kuah santan, perkedel tempe atau olahan tempe hasil kejeniusan Ibu saya yang lainnya.

Juga tak ada lagi ritual pagi hari menyantap turahan alias sisa mie kuetiaw goreng yang dibeli Bapak saya. Bapak saya itu dulu sering pulang larut malam, karena tugasnya itu lebih banyak dari pegawai lainnya. Penyebab pulang malamnya Bapak versi Ibu yang diceritakan pada saya itu begini:

“Bapak itu tugasnya selain nyatet-nyatet ya nungguin pegawai lain setor dagangan di sore hari, setelah itu Bapakmu bertugas ngitung semua duit yang disetor dan mencatatnya. Mangkanya pulangnya sering telat.”

Saya, dan mungkin juga adik saya, tak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Justru ada semacam hiburan ketika Bapak pulang larut malam. Bapak –ketika ada duit tentu saja, sering pulang dari kantor dengan membawa oleh-oleh berupa mie kuetiaw goreng yang beliau beli dari penjual keliling yang trayeknya itu antara pertigaan Kalibogor ke arah Karang Lewas, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.

Tentu saja mie itu ketika saya santap sudah dingin karena saya santap saat pagi harinya. Bapak dan Ibu tak menyentuh sedikitpun turahan mie itu, karena semalam mereka sudah mencicipinya dan menyisakannya untuk saya.

Meskipun anyep, ada kenikmatan tersendiri. Saya sadar, mie itu tentu bisa dihabiskan oleh Bapak seorang tanpa bantuan Ibu. Weh lha ini kok meski sudah dikeroyok dua orang dewasa tapi masih ada sisa turahan untuk saya lho ya!?

Maka sisa mie goreng kuetiaw oleh-oleh Bapak itu sebuah kuliner yang spesial. Ada kebanggaan yang tak bisa digambarkan di sana. Mungkin semacam kebanggaan seorang Bapak yang menghabiskan makanan sisa anak-istrinya dengan penuh gusto bin semangat. Mungkin.

Kembali ke mie goreng instan, semenjak kehadirannya, tentu saja kejutan pagi hari sebangsa kuetiaw atau martabak telor tanpa bawang daun kesukaan saya menjadi absen. (Suatu saat semoga saya bisa bercerita soal martabak telur tanpa bawang daun)

Kreatifitas Ibu dalam menyulap tempe pun menjadi tak terpakai dan tak terasah. Bapak, ah, kalau Bapak itu bisa makan apa saja.

Untungnya kondisi kecanduan mie goreng ini tak semakin parah, bahkan hilang dengan sendirinya. Tanpa sadar, Ibu kembali mengasah kreatifitas –juga imajinasi dalam mengolah tempe. Dan Bapak kembali dengan kejutan-kejutan di pagi hari setelah malam sebelumnya pulang telat.

Untungnya demikian, karena bagaimanapun, tempe olahan Ibu saya lebih bergizi dengan mie goreng gadungan itu. Tentu saja gadungan, mie goreng instan kan ndak mengalami proses penggorengan namun dilabeli “mie goreng” tho?

Tapi mie goreng instan yang direbus itu masih mending dengan sepupunya yang meski dilabeli dengan “mie goreng” akan tetapi tidak pernah digoreng. Jangankan digoreng, direbus saja tidak. Nama sepupunya itu mie seduh goreng.

Dan makanan instan yang berlebihan dalam bumbu dan penyedap ini sekarang masih jadi idola lho. Tanpa inovasi, selain dibuat makin berbumbu. Efeknya, sang penyantap tentu saja jadi enggan menyantap makanan berbumbu wajar dan normal lainnya.

Silakan googling sendiri, soal efek samping mengkonsumsi mie instan dalam waktu yang lama. Tulisan saya ini hanya sekadar ingin memutar waktu dalam romansa mengenang masa lalu.

Bagaimana dengan anda? Punya kisah dengan mie goreng?

2 comments
  1. yudi projonegoro said:

    kalo aku makan mie instan gara2 “kost”,sampe punya lagu “mie gorengku tinggal dua,mari kita makan berempat”.. hewhew..

  2. Teringat masa-masa kuliah, prodip. Seorang dosen berkata, “saya berterima kasih kepada mie instan yang telah memberi gizi kepada murid-murid saya”😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: