Merdeka

MERDEKA DALAM PEKIK, TERJAJAH DALAM KEBODOHAN

Dua hari lalu, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke 66. Akan tetapi definisi merayakan bisa bermacam-macam. Penuh nuansa. Bagi anak-anak sekolah, 17-an berarti upacara, berpanas-panas dan bermandi peluh.

Buat politisi, atau figur publik, ini sarana pencitraan. Dan buat aktivis jejaring sosial (seperti saya), tanggal 17 Agustus adalah momentum yang tepat untuk tiba-tiba menjadi nasionalis dan patriotis dengan menulis sebanyak-banyaknya status atau komentar pada suatu status baik itu di Facebook, twitter atau situs jejaring sosial lainnya.

Buat generasi yang tidak mengalami perjuangan merebut kemerdekaan (lagi-lagi seperti saya) akan sangat sulit memahami makna kemerdekaan, ditambah dengan pendapat umum bahwa sesungguhnya kita belum benar-benar merdeka karena negara kita masih jauh tertinggal (baca: tidak kaya).

Untuk mengenal kemerdekaan, akan lebih baik jika saya mengenal Indonesia terlebih dahulu. Witing tresno jalaran soko kulino.

Indonesia itu sangat luas. Sangat kompleks dan beragam. Baik kebutuhan, keinginan maupun masalah yang dihadapi. Dan kebanyakan masyarakat jaman sekarang cenderung untuk mau saja digiring oleh media, misalnya dengan opini bahwa sebenarnya mengurus Indonesia itu mudah, hanya saja pemerintahan yang koruplah yang membuat kita menjadi bangsa yang tertinggal.

Kita iya-iya saja ketika ada yang bilang bahwa kita seharusnya belajar dari Singapura, yang meski kecil namun menjadi macan Asia, dengan menafikan kenyataan bahwa luas wilayah Singapura ndak ada apa-apanya jika dibanding separuhnya Indonesia!

Uang satu juta dollar Amerika, kalo digunakan untuk membangun infrastruktur di Indonesia dan di Singapura, akan berbeda hasilnya. Di Indonesia uang segitu ndak akan terlalu kelihatan hasilnya. Celakanya lagi, hal tersebut masih juga diganggu dengan korupsi.

MERDEKA SIH SUDAH, MERDESA YANG BELUM.

Ah! Korupsi. Kita masyarakat juga digiring untuk lebih menganggap korupsi sebagai penyakit di instansi pemerintah. Kita sering lupa bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme –yang sama-sama kita sepakati sebagai suatu kejahatan, telah mendarah daging dan itu sudah terjadi sejak lama.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

– Bung Karno

Bung Karno telah memperingatkan kita, akan tetapi kita sibuk berperang dengan orang lain sebelum mendamaikan urusan rumah tangga kita.

Kita juga terdidik untuk marah, membenci juga curiga tanpa peduli jika amarah, kebencian dan kecurigaan kita tadi salah sasaran. Ada yang bilang bangsa kita ini terlalu pemaaf, sehingga banyak kejahatan sosial seperti korupsi meraja lela. Pemaaf mungkin tidak, pelupa sih iya. Atau jangan-jangan negeri kita begini karena masing-masing kita telah menjadi bagian darinya tanpa disadari? Na’udzubillah!

Saking tidak kenalnya kita dengan Indonesia, seringkali kita dengar omongan orang atau kelompok yang menyatakan kita belum merdeka. Menurut saya sih, kita telah merdeka. Hanya saja kemerdekaannya berbeda-beda. Merdeka dalam pekik, itu kita punya. Coba tengok Malaysia, media massa disetir, pendapat tidak bisa bebas disampaikan dan lain sebagainya.

Sedang di sini, anda bisa bebas membakar gambar presiden meski jelas hal itu melanggar peraturan. Anda bisa ngomong apa saja dan masih hidup. Itu juga kemerdekaan, hanya saja kemerdekaan yang keliru dalam pelaksanaannya.

Kenalilah Indonesia, anda akan terkejut bahwa Indonesia jauh lebih luas dari pekarangan anda, sehingga bukan urusan mudah untuk mengurusnya dengan sedemikian banyaknya kepala, pikiran, keinginan, kebutuhan dan tujuan.

Anda tak berhak mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang tertinggal dan memalukan, jika anda tak pernah melakukan apapun untuk Indonesia.

Seorang kawan biker pernah dengan sinis mengatakan bahwa pemerintah itu penjahat karena dia merasa pajak yang dia bayar selama ini tak pernah dia nikmati secara langsung. Dia mungkin lupa atau tidak tahu, bahwa pajak tidak mempunyai nilai manfaat secara langsung. Dia juga lupa bahwa dia membayar pajak di bawah 1 juta pertahun namun menikmati jalanan ribuan kilometer tiap bulannya dengan hobi touring motornya, menikmati subsidi yang tidak sedikit dengan penggunaan premiumnya. Belum lagi listrik dan lain sebagainya.

Kenali Indonesia dan mulailah jujur pada diri sendiri tentang apa yang pernah anda lakukan untuk negeri ini. Indonesia itu jauuuuh lebih luas dari pekarangan anda! Jadi jangan teriak memaki Indonesia hanya karena jalan di depan rumah anda rusak!

Saya bangga menjadi warga Indonesia. Kenapa? Karena Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa yang meski diinjak, dijarah, dikorupsi, disiksa, dianiaya dan diperkosa bahkan oleh warganya sendiri, bangsa ini tetap saja belum bangkrut dan berdiri dengan gagahnya.

Bahkan Sujiwo Tejo mengatakan bahwa tali temali yang mengikat bangsa kita menjadi satu adalah korupsi, karena kita begitu berbeda. Sebuah bangsa pada umumnya terbentuk karena adanya kesamaan tujuan, adat istiadat, agama, budaya, bahasa atau kesamaan historis. Lha Indonesia? Kita begitu berbeda sehingga tak jelas apa yang mengikat kita menjadi satu.

Dan Indonesia kini berumur 66 tahun. Kurang kagum? Terserah anda.

Selamat ulang tahun, Indonesia. Aku padamu. Merdeka!! Merdeka!! Dan semoga kita tak hanya merdeka tetapi bisa merdesa. Amin!

KETERANGAN:

– Draft ditulis pada tanggal 16 Agustus 2011 namun baru selesai diedit dan diposting pada 19 Agustus 2011.

– Gambar diambil dari sini.

– Buat yang masih yakin 17 Agustus 1945 itu bertepatan dengan 17 Ramadhan 1364 H, baca ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: