Kemana? Kemana? Kemanaaa?

Sampeyan rajin ngikutin perkembangan berita dalam negeri, baik melalui media cetak maupun elektronik? Iya? Pernahkah sampeyan mikir kenapa hampir semua berita dalam negeri itu isinya melulu soal carut marutnya negara ini? Tentang kalau toh ada artikel/berita yang menarik (baca: indah) itu biasanya justru soal kuliner atau wisata? Iya? Sama dengan saya kalau begitu.

Media, cetak atau elektronik sepakat mufakat soal negara ini akan segera hancur dan seolah-olah penasaran menunggu itu terjadi. Soal solusi, jangan tanya!

BECIK KETHITHIK, ALA RUPAMU!

Kalau dilihat beberapa waktu lalu, pemberitaan media masih berazas ‘becik kethithik, ala rupamu!‘ alias melulu mbahas yang jelek dan porsi yang bagus hanya secuil kecil saja. Tapi menengok media (massa) saat ini, semua melulu soal ‘ala rupamu!‘ tadi.

Di belakang media tentu saja ada manusia. Ada manusia tentu ada kepentingan. Ada juga sudut pandang. Tarohlah jika ada pisang di meja makan lalu sampeyan dan saya harus menulis esai soal pisang tersebut bisa saja hasilnya akan bertolak belakang bahkan mungkin membingungkan.

Misalnya anda benci pisang, bisa saja anda kan menulis pisang tersebut sebagai kemenangan kaum kapitalis atas dunia jual-beli sehingga pisang tersebut bisa berada di meja makan. Lalu anda dengan penuh kebencian bisa saja akan membahas hal-hal negatif (yang anda tidak suka) dari pisang dengan bahasa seolah-olah semua orang harus (mau-tak-mau) sepakat dan sepaham dengan anda.

Bagaimana dengan saya? Saya suka pisang. hanya saja jika sampeyan mau membayar saya agar menulis berita miring soal pisang, anda akan mendapatkannya. Menulis hal negatif demi uang? Kenapa tidak. Toh itu hanya pisang.

TOH HANYA HAL SEPELE!

Jangan-jangan di benak orang-orang di balik media itu ada semacam pemikiran: “toh hanya berita soal ini, sepele!”. Celakanya hal se-ekstrim apapun akan jadi sepele juga akhirnya. Dus, semua hal bisa jadi hal sepele!

Bosan dengan berita menakutkan di televisi (misalnya), cobalah anda yakinkan kelompok penguasa negeri ini untuk membuat stasiun televisi tandingan baru atau agar tidak repot, belilah saham hingga menjadi pemilik saham mayoritas yang mempunyai wewenang mengarahkan apa saja.

Buat yang teriak-teriak soal di negara ini rakyat selalu jadi korban, jangan lupa bahwa SBY atau Aburizal bakrie juga rakyat Indonesia. Ning bukan sakbaen-nya rakyat. Kalau anda masih menerjemahkan kata rakyat dengan gambaran kemiskinan dan ketidakmampuan, para pemilik ferrari yang limited edition di Indonesia itu masuk kategori apa? Bukan warga Indonesia?

Saya itu rakyat. Ayu Ting Ting juga rakyat. Gayus juga rakyat. Nazaruddin juga. iBas apalagi. Kita semua itu ibarat anak-anak Ibu Pertiwi. Tinggal bagaimana kita mau berperan dalam kehidupan ini. Mau jadi anak macam apa? Masing-masing kita punya peran dan tugas. Sayangnya Ibu Pertiwi tak cukup kejam untuk mau dan mampu untuk mengejar-ngejar anaknya yang bandel dan memukulnya dengan sapu lidi.

KEMANA? KEMANA? KEMANAAA?

1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: