Kala Bono Datang Bertamu

Kemarin saya seperti jutaan manusia di planet bumi lainnya, terkejut lantaran U2 secara tiba-tiba merilis album baru, album ke-13 bertajuk Songs Of Innocence. Mereka menggandeng (atau digandeng?) oleh Apple dalam merilis album ini, gratis. Gratis dalam artian jika anda adalah satu dari 500 juta pengguna iTunes, maka secara otomatis album ini sudah ada di daftar pustaka iTunes anda.

Saya penggemar U2 sejak SMA, tentu saja album The Joshua Tree yang dirilis tahun 1987, meskipun masa SMA saya ada di penghujung 90-an. Saat itu U2 berkibar di kancah musik dunia dengan lagu Elevation*) yang juga menjadi soundtrack film Lara Croft: Tomb Raider.

a_560x375

Dan U2 terakhir merilis album itu 5 tahun silam, album yang banyak menuai kritik negatif baik dari fans maupun non-fans. Dan justru dengan dirilisnya album Songs of Innocence ini saya merinding. Oke, saya senang bukan kepalang, tapi lebih ke soal semisal karena terlalu lama tak berjumpa kekasih saja. Saya gondok, karena album band (katakanlah) terbesar di planet ini digratiskan dan otomatis ada di daftar putar iTunes jutaan orang.

Saya selalu percaya, sesuatu yang gratis tak selalu bagus. Dan saya masih berpendapat demikian. Taruhlah album itu secara kualitas bagus menurut saya, tapi karena semua pengguna iTunes mendapat kiriman yang sama (suka ataupun tidak), bukankah akan menimbulkan lebih banyak pembenci-pembenci baru? Dan apa yang lebih menyakitkan hati jika kekasih kita dibenci jutaan orang?

Album yang dibagikan gratis dan otomatis nggletak di daftar putar itu semacam ada orang yang menelpon anda bilang bahwa dia ingin bertamu bertemu anda dan saat ini dia sudah berada di ruang tamu anda tanpa anda bukakan pintunya. Jika anda suka dengan tamunya, mungkin itu masih bisa diterima, tapi bagaimana jika sebaliknya?

Semenjak album terakhir mereka, U2 memang banyak dicaci, cenderung dianggap sudah kehilangan aji atau have lost their mojo, kalau orang barat bilang. Karyanya lalu dibanding-bandingkan dengan karya jaman dahulu yang dianggap sebagai puncak pencapaian mereka, terutama The Joshua Tree.

Mungkin itu sebabnya Bono dan kawan-kawan memutuskan untuk merilis album mereka sebagai kejutan dalam skala yang massive. U2 semacam ditunggu-tunggu kegagalannya, baik oleh barisan pembenci ataupun barisan sakit hati akan karya mereka. Bahkan banyak penggemar yang terang-terangan membenci karya kontemporer U2.

Dan Bono paham betul soal itu, makanya dalam situs resmi U2, Bono menulis semacam press release launching album Songs of Innocence dengan menegaskan:

And for the people out there who have no interest in checking us out, look at it this way… the blood, sweat and tears of some Irish guys are in your junk mail.

Dia sadar bahwa banyak yang tak menyukai mereka, memberi label penuh kebencian terhadap mereka dan lain sebagainya. Realistis, tapi menunjukkan bahwa sekali lagi mereka terlalu peduli dengan pembenci mereka.

Seperti judul album yang dipilih; Songs of Innocence, (yang diambil dari penyair Inggris; William Blake) album ini adalah semacam usaha penemuan kembali atau re-discovery bahwa album ini dibuat dengan atmosfer semirip mungkin dengan yang mereka alami di masa-masa awal berkarir di dunia musik. Dan sekali lagi menegaskan bahwa U2 ingin kembali ‘menjadi’ U2. Setidaknya U2 di masa awal menjadi gemilang.

Dan ini Songs of Innocence, track by track:

  1. The Miracle (of Joey Ramone)
    Lagu ini didedikasikan untuk Joey, dan (tentu saja) cocok dipakai untuk jingle iklan Apple, minimal intro-nya. Intro berupa choir “Ooooh oh ooooh Ooooooh!” jelas didesain untuk menggerakkan penonton saat manggung. Ingat, U2 membuat lagu untuk ditampilkan di panggung. Penggalan lirik “And we were pilgrims on our way” jelas menceritakan usaha U2 untuk kembali ke akar mereka. Post-punk. Tapi entah kenapa lagu ini justru terdengar seperti glam-rock setengah matang.
  2. Every Breaking Wave
    Lagu ini diawali dengan penuh kelembutan lalu ditabrakkan dengan chorus yang megah dan penuh hingar, ya ini racikan standar U2 di beberapa album terakhir mereka. Dan tak cuman U2 yang mengalami ini, tengoklah Linkin Park. Dan membahas hidup dengan analogi air laut ini lumayan, liriknya tak terlalu sulit untuk dipahami.
  3. California (There Is No End To Love)
    Lagu ini tentang….California lah! Yang memorable di lagu ini adalah choir di awalnya dan “whoa-oh-ohs” di tengah lagu.
  4. Song For Someone
    Nampaknya lagu ini dirancang untuk dimainkan di pertengahan konser di stadium dan menjadi semacam anthem. Pas bikin album mungkin salah satu anggota band berujar: “Anthemi wae!!”. Tentang cinta dan perjuangan mempertahankannya.
  5. Iris (Hold Me Close)
    Dan Bono melulis lagu tentang ibunya. Sound gitar The Edge mengingatkan saya pada lagu “I Still Haven’t Found What I’m Looking For”, semacam replika yang cantik. Dan ini adalah lagu favorit saya.
  6. Volcano
    Betotan bass Adam Clayton pada track ini jelas semacam usaha mengajak pendengar untuk kembali ke era post punk a la U2, dan sayangnya dengan riff-riff yang dibuat The Edge, lagu ini gagal menunjukkan erupsi-gunung-berapi sempurnanya.
  7. Raised By Wolves
    Bukan Bono namanya kalau dia tak berusaha ndongeng soal Irlandia terutama soal gejolak politik masa lalu. Lagu yang berbasis kejadian tahun 1974 ini, masih jauh jika dibanding dengan Sunday Bloody Sunday. Tapi liriknya tersusun rapi jali.
  8. Cedarwood Road
    Selain soal ibu, Bono mengajak kita membahas tempat masa kecilnya. Rupanya, Bono belum berhasil menemukan tempat dimana jalan-jalannya tak bernama.
  9. Sleep Like A Baby Tonight
    Tumpukan suara synthesizers, strings dan tepukan lembut Larry Mullen Jr., yang kemudian dihajar suara gitar rusak The Edge. Mungkin sedang mencoba membuat Lou Reed bangga dari alam baka.
  10. This Is Where You Can Reach Me Now
    Pemberontakan remaja dan The Clash, itu inti lagu ini. Sebuah tribute untuk Joe Strummer. Dan Adam Clayton berusaha ngebass kayak Paul Simonon.
  11. The Troubles
    Lagu manis yang cukup megah, dan dipermanis oleh suara cewek (akhirnya) dari Lykke Li. Dan meninggalkan kesan nanggung ditaruh di ujung album. Bagi penggemar U2, terutama The Edge, tentu tahu gitaris band ini sangat serius dalam nentuin urutan lagu dalam sebuah album.

Tapi, harap dimengerti review di atas adalah hasil mendengarkan sebelas lagu dalam satu album semalam suntuk. Mungkin 3 atau 4 kali. Album ini layak didengarkan lebih lama, siapa tahu malah akan menemukan momen: “Anjrit! Baru paham gue asyiknya album ini..”.

Suka atau tidak, tetap saja mereka itu U2. Band terbesar di planet ini. Dan siapa tahu album Songs of Innocence ini adalah menu pembuka untuk “Songs of Experience” yang selalu dijanjikan Bono. Semoga.

Tambahan:
*) Terima kasih ralat dari Didik Yandiawan (twitter: @didikyandiawan), saya salah tulis.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: