Kemenag Kemana?

Tadi pagi saya membaca pesan berisi -lebih tepatnya kegamangan akan pemerintahan baru yang dipimpin oleh Jokowi. Kawan saya yang terkenal relijius -setidaknya dibanding saya itu kuatir jika nantinya kementerian agama dihapus oleh pemerintahan baru yang sejatinya belum terbentuk, Jokowi saja belum dilantik dan SBY masih menjadi presiden Indonesia.

Jokowi memang sejak awal ‘diragukan’ relijiusitasnya oleh kelompok tertentu, dengan menafikan fakta bahwa jangankan iman dan takwa seseorang, isi hati orang lain saja kita (baca: saya) tidak tahu. Banyak isu dan menjadi gunjingan yang dikunyah sedemikian banyak orang tentang keimanan, ketakwaan bahkan agama yang dianut Jokowi.

Manusia, setidaknya manusia Indonesia memang terdiri dari manusia-manusia yang kepo, meminjam istilah kekinian yang berarti ingin tahu. Terutama terhadap hal-hal yang tak jelas tolok ukurnya dan sejatinya tak bisa diketahui secara pasti. Dan beberapa orang tak ragu untuk mempertanyakan dan meragukan aqidah seseorang, termasuk Presiden mereka. Padahal saya percaya bahwa aqidah seseorang hanya Tuhan sendiri yang tahu, masyarakat hanya butuh akhlak kita.

Memang sulit, untuk belajar mengikhlaskan hati dan mencukupkan rasa ingin tahu, apalagi soal relijiusitas bagi orang-orang relijius (setidak-tidaknya merasa relijius). Pemimpin memang harus orang paling jempolan, satrio pinilih, bukan sembarang orang karena di pundaknyalah nasib jutaan orang dan arah sebuah bangsa dititipkan.

Dan nampaknya isu soal agama masih saja penting dan dipenting-pentingkan untuk dibahas ketika membahas Jokowi.

Kementerian agama, diisukan akan dihapus. Begitu kata kawan saya tadi pagi melalui jalur komunikasi nirkabel. Lalu siang hari dia -seolah lupa dengan kirimannya sendiri saat pagi, mengirim pesan lagi yang menyatakan bahwa kementerian agama akan diubah namanya menjadi Kementerian Haji, Zakat dan Wakaf. Tak satupun dari dua pesan itu saya balas, dengan dua alasan.

Pertama, pesan yang disebar itu sebenarnya masturbatif. Dia tak pernah benar-benar membutuhkan respon penerima pesannya. Kedua, kedua pesan tersebut hadir prematur dan cenderung menuduh tanpa bukti, minimal terlampau mudah terbawa arus berita yang dihembuskan entah oleh siapa tanpa bukti yang cukup.

Tapi saya lantas jadi tertarik mencari tahu tentang organisasi kepemerintahan bernama Kementerian Agama, seperti layaknya kementerian lain, Kementerian Agama harus bisa diukur kinerjanya dan sebisa mungkin dengan akuntabilitas yang tinggi dan meningkat dari masa ke masa.

Dari laman situs resminya, dicantumkan bahwa organisasi tersebut mempunyai visi “Terwujudnya masyarakat Indonesia yang TAAT BERAGAMA, RUKUN, CERDAS, MANDIRI DAN SEJAHTERA LAHIR BATIN.”, tulisan yang tertulis dalam huruf besar, sesuai yang tercantum pada laman aslinya.

Adapun misi Kementerian Agama adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kualitas kehidupan beragama.
  2. Meningkatkan kualitas kerukunan umat beragama.
  3. Meningkatkan kualitas raudhatul athfal, madrasah, perguruan tinggi agama, pendidikan agama, dan pendidikan keagamaan.
  4. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji.
  5. Mewujudkan tata kelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa.

Meski di sana dicantumkan dalil eh maksud saya dasar hukum visi misi tersebut, yaitu Keputusan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2010, ketika saya cari tahu, saya sama sekali tak menjumpai visi dan misi yang dimaksud. Tapi sudahlah, anggap saja ada.

Sebuah organisasi dibentuk pasti punya tujuan dan sasaran yang jelas, dan harus bisa diukur, tapi saya yang bodoh ini sama sekali tidak tahu cara ngukur kesuksesan dari visi yang tertulis di atas. Merujuk ke cara kerja tempat saya bekerja, saya jadi membayangkan jangan-jangan akan ada petugas dari kemenag yang mendatangi orang-orang untuk rajin beribadah, buat yang membandel akan dilakukan prosedur audit untuk menguji kepatuhannya. Blaik kan? Tapi untungnya itu hanya ada di kepala saya.

Lalu beranjak ke misi-misinya, muncul pertanyaan bagaimana cara mengukur kualitas beragama dan kualitas kerukunan umat beragama? Lagi-lagi otak saya tak sampai. Murni karena kedunguan saya.

Sebenarnya jangan-jangan isyu penghapusan kementerian agama malah muncul dari mereka-mereka yang jengah dengan keberadaan kementerian itu sendiri. Tahun 2011 pernah dilansir bahwa kementerian agama justru menjadi lembaga pemerintah terkorup. Dan penyelenggaraan haji yang tiap tahunan juga konon kabarnya tak pernah membaik. Dan yang paling sering menjadi bahan olok-olok adalah mencuatnya kasus korupsi pengadaan Al Quran.

Jadi anggap saja, ada yang pingin Kementerian Agama itu dihapus, ada pula yang ingin Kementerian Agama tetap ada menjalankan tugasnya mengenai hal-hal keagamaan, mengingat negara menjamin kebebasan warga negaranya dalam menjalankan agamanya. Dan Jokowi (juga siapapun presidennya) harus menampung semua aspirasi penduduk Indonesia yang bisa beda kepala beda cerita dan pinta.

Bagi saya, beragama cukuplah untuk manusianya saja. Tak perlu sebuah organisasi bernama negara juga harus beragama. Sampeyan boleh menuduh saya liberal atau dengan label apapun, tapi bagi saya beragama itu menimbulkan konsekuensi hak dan kewajiban. Jika saya beragama maka saya harus patuh aturan agama yang saya anut. Lantas bagaimana jika sebuah negara harus beragama? Bagaimana cara sebuah negara shalat? Atau ke gereja dan lain-lain. Bagaimana?

Kewajiban sebuah negara dengan penduduk yang heterogen (menurut saya) adalah menjamin setiap warga negara bebas menjalankan keyakinannya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Klausa “dengan syarat dan ketentuan yang berlaku” saya cantumkan karena banyak dari kita suka kebablasan menerjemahkan kebebasan itu sendiri. Padahal kebebasan harus dirayakan dengan tanpa sedikitpun melukai orang lain.

Jadi peran negara adalah memfasilitasi, mengamankan dan menjadi mediator urusan-urusan yang berkaitan dengan pelaksanaan peribadahan tiap warga negaranya. Setidak-tidaknya itu yang ada di kepala saya. Makanya sepakat dengan Cak Nun, bagaimana kalau Kementerian Agama diganti nama menjadi Kementerian Sarana Peribadatan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: