Yang Tak Tergadai

Bagi orang kantoran, hari senin jamak dimusuhi, bahkan dibenci. Hadir sebagai hari yang datang merusak liburan, tak peduli apakah akhir pekan dihabiskan untuk piknik ataupun hanya leyeh-leyeh meluruskan punggung tiduran di rumah, seperti yang rutin saya lakukan. Lalu apa yang lebih menyebalkan melebihi hari senin? Jawabnya adalah rapat pagi jam 08:00 di kantor, di hari senin.

Rapat kali ini hanya berupa tim kecil. Berisi para Pejabat Eselon IV, perwakilan Pejabat Fungsional, saya dan beberapa pegawai lain. Entahlah, saya bingung akan arti kehadiran saya di rapat tersebut. Saya hadir di sana semata karena julukan ‘kreatif’ yang telanjur dipaksakan melekat di jidat saya.

Perlu saya tegaskan, saya bukan orang yang kreatif. Saya jauh dari predikat kreatif. Kalau boleh saya memberi label pada diri saya sendiri, maka ‘iseng’ yang akan saya tempelkan lekat-lekat di jidat saya sebagai identitas. Sebelum makin melantur, saya akan cerita lebih lanjut soal rapat tadi.

Secara empiris, ketika saya dilibatkan pada sebuah rapat, maka bukan karena diminta mencari ide segar nan baru demi kelangsungan organisasi. Dan benar dugaan saya, rapat kali ini adalah semacam peringatan terakhir akan sesuatu hal yang mesti dikerjakan organisasi tempat saya nunut numpang mencari makan. Dan saya lagi-lagi secara sembarangan dicap sebagai salah satu ‘the right man on the kepepet time’. Padahal saya jarang bisa diandalkan.

Jadi, dua hari setelahnya, yaitu hari Rabu, 01 September 2014, adalah hari terakhir bagi kantor saya untuk mengumpulkan karya berupa film pendek bertemakan semangat anti korupsi yang sedianya akan dilombakan secara nasional di internal instansi saya.

Yang Tak Tergadai [Extended] .mp4_thumbs_[2014.09.30_18.22.07]

Artinya, saya hanya punya waktu dua hari untuk membuat film pendek. Mulai dari ide cerita, skenario, perlengkapan, akomodasi, pengambilan gambar dan juga proses penyuntingan gambar. Dua hari. Iya sih, kantor saya sebenernya sudah pernah merapatkan hal ini sebelumnya, akan tetapi karena kesibukan lain yang lebih mendesak, urusan pembuatan film pendek ini kami kesampingkan.

Sebagai orang yang tak punya pengalaman di bidang membuat film, saya aslinya bingung harus memulai dari mana. Tapi setelah bergesekan ide dengan peserta rapat lain, saya dan tim kecil saya menyepakati soal bagaimana film pendek kantor kami akan dibuat.

Alih-alih membuat film pendek nan kaku, saya bersama tim saya keping demi keping menyusun cerita sederhana yang berani kami jamin betulan terjadi di dunia nyata. Tentang petugas pajak yang kepepet kebutuhan mendadak.

Banyak yang sukar percaya bagaimana mungkin orang yang bekerja di kantor pajak bisa kekurangan uang. Nyatanya, saya juga pernah (baca: sering) mengalaminya. Dan bagi anda yang tak percaya bahwa banyak petugas pajak yang menggadaikan SK PNS mereka sebagai agunan kredit di bank, saya kasih tahu, anda keliru.

Pukul 10:00 lewat sedikit, saya dan tim saya mulai melakukan proses pengambilan gambar berdasarkan skenario yang saya tulis di secarik kertas bekas. Agar praktis, maka kami mengambil gambar di tempat yang bisa dilakukan di lingkungan kantor kami.

Selain lokasi pengambilan gambar di kantor, sebenarnya ada lokasi lain yang dimana kami harus mengambil gambar. Yaitu rumah sakit, rumah tinggal tokoh utama dan showroom penjual sepeda motor bekas. Entah tak kurang akal maupun lantaran malas, adegan rumah sakit yang betulan kami ambil di rumah sakit hanyalah adegan tokoh utama keluar dari rumah sakit dalam kondisi gontai.

Akan halnya adegan tokoh yang diceritakan sakit parah dan adegan tokoh utama berkonsultasi dengan dokter, diambil di klinik kesehatan kantor. Scene jual-beli motor dilakukan di area parkir sepeda motor tamu kantor saya, jadi yang ditempeli tulisan “DIJUAL” itu adalah sepeda motor milik Wajib Pajak.

Adegan tokoh utama keluar rumah lalu dijemput teman sekantornya (yang diperankan oleh saya) mengambil tempat di rumah kos sang kameramen, menggunakan motor salah satu pegawai yang kuncinya tak dicabut dan dibiarkan tergantung.

Karena film ini sebenarnya dibuat tanpa ditulis dialognya terlebih dahulu (karena niat awalnya membuat film bisu), dialog yang ditampilkan di film ini hadir tanpa skrip dialog dan bahkan tanpa latihan terlebih dahulu. Kepala kantor saya ngomong tanpa latihan dan mengalir begitu saja, mungkin karena sudah terbiasa begitu. Dan kagetnya entah bagaimana kok bisa-bisanya beliau membahas kredit bank pegawainya ke arah ide pembentukan Direktorat Jenderal Pajak menjadi sebuah badan otonom.

Tentu saja film ini jauh dari kata sempurna, wong masuk kategori bagus saja kemungkinan besar tidak. Banyak blooper yang tidak kami sengaja, baik dari segi kontiniti, perlengkapan maupun editing yang kurang teliti. Tapi niatan awal kami membuat ini adalah untuk ikut berpartisipasi dalam lomba anti korupsi, itu saja. Dan bicara profesionalitas, jika film pendek ini dibuat dengan menggunakan jasa pihak ketiga, dengan durasi 4 – 7 menit tentu akan mengeluarkan biaya 3 – 5 juta rupiah.

Tontonlah sampai bagian akhir credit title, maka akan mendapati tulisan sebagai berikut:

Film pendek ini hanya fiktif dan rekaan belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, waktu dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka.

Tidak ada yang sungguh-sungguh sakit di film ini, tapi banyak yang namanya disebut di atas yang menggadaikan SK sebagai agunan kredit di bank.

Ya, itu memang curcol kalau kata anak sekarang.

1 comment
  1. Adis said:

    ora isoh didelok bos… “video ini pribadi” jarene

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: