Ego

Pernahkah anda mendapat nasehat agar menenangkan diri untuk lalu mendengarkan isi hati? Agar kita bisa mengambil keputusan tak tergesa dan tak egois. Jika kembali ditengok, sebenarnya apa sih makhluk bernama ego yang sangat sering disalahkan atas segala sesuatu yang tergesa dan keliru? Berapa dari kita pernah dianggap keliru lalu: “Kamu sih terlalu mengikuti ego mu!”.

Dari buku-buku Sigmund Freud, saya mendapati ada tiga struktur psikologi dalam diri manusia, yaitu Id, Ego dan Super-ego. Tidak, anda tak wajib beriman kepada Freud yang terlalu banyak menggunakan kokain dan nampaknya menyalahkan apa-apa kepada Ibunya itu. Hanya saja ilmu psikologi modern dibangun salah satunya dari hasil pemikirannya.

Id adalah bagian dari kepribadian kita yang sama sekali tidak berada dalam tatanan apapun, tak teratur dan mentah, semacam insting naluriah kita. Misalnya saya melihat cewek yang sesuai dengan kebutuhan seksual saya, maka Id bisa jadi sibuk menerkam cewek itu dengan buas secara spontan.

Ego berbeda dengan Id, dia bekerja sesuai dengan tataran realitas yang ada. Dengan ego, saya tak sungguh-sungguh menerkam cewek yang tadi saya bahas. Saya tahu saya berada di dunia nyata, tak mungkin melakukan itu. Ego akan menggiring saya untuk mencari cara agar menjembatani Id milik saya dengan kenyataan semirip mungkin.

Bukankah hidup itu sendiri adalah semacam proses mewujudkan agar keinginan dan realisasi hadir semirip mungkin─kalau memang tak bisa sama persis?

Super-ego hadir lebih pelik. Dia adalah Id dalam wujud yang paling menderita. Selain dibenturkan pada realitas, super-ego hadir dengan pertimbangan lebih banyak karena melibatkan norma etika dan regulasi serta protokol sosial yang berlaku di masyarakat.

Sekali lagi, anda tak harus percaya Freud dan belum tentu penjelasan saya di atas tadi itu akurat.

Lebih dari tiga dasawarsa hadir di dunia ini, saya percaya bahwa semua yang saya lakukan di dunia ini sejatinya hanya untuk diri saya sendiri, apapun jenisnya, apapun bentuknya, actually i am doing it for my self selfishly.

Tak percaya? Makan dan minum jelas untuk kepentingan saya sendiri, it’s obvious. Lalu bagaimana dengan menyumbang beberapa rupiah kepada pengemis, bukankah itu demi kepentingan orang lain? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi bagi saya, menyumbang itu semacam usaha memenuhi kebutuhan diri untuk merasa punya peran dalam dunia, dalam hal ini peran dalam ikut andil membantu sang pengemis. Ujung-ujungnya untuk membuat diri saya merasa lebih baik. Selfish.

Pikirkan lagi, saya tak menemukan satupun tindakan saya selama hidup yang saya lakukan tanpa bertujuan untuk memuaskan kehausan saya akan memenuhi ego. Ego kita begitu besar, hingga definisi manusia sebagai makhluk sosial lebih dijabarkan dalam filsafat, bukan psikologi. Kita makhluk egois. Adapun misalnya kita bergabung dalam suatu kelompok, itu semata kita lakukan agar apapun yang kita incar, bisa dicapai dengan lebih mudah. Bisa saja kita melakukan bargaining, tawar menawar dalam komunitas, tapi kita tetap saja punya proyek pribadi yang diam-diam ingin kita wujudkan demi ambisi pribadi.

Saking besarnya ego─yang mempengaruhi keinginan untuk (terus) hidup─membuat kita secara otomatis takkan bisa bunuh diri dengan cara menahan nafas. Tidak akan bisa. Ya saya telah mencobanya, silakan anda juga.

Ada sebuah tulisan yang menarik bagi saya yang saya temukan di media sosial bernama twitter.

“I never see Homo Sapiens as “the noble creature”. We are too evil and vicious to bear the title.”

—Henry Manampiring

Sedih bukan? Anda bisa saja tak setuju karena sejak kecil diajarkan bahwa kita, manusia adalah makhluk paling tinggi derajatnya dan paling sempurna dalam kerangka relijiusitas. Tapi manusia disebut sebagai makhluk paling sempurna itu dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Tidak hadir serta merta. Di sini super-ego diberi PR banyak.

Jika membaca sejarah, kita akan menemukan betapa nyawa manusia tak ada harganya, jutaan orang bisa mati hanya karena ego satu orang dan kelompoknya. Kita adalah makhluk di muka bumi ini yang paling sempurna dalam membuat kerusakan, kepada diri sendiri, kepada makhluk lain dan juga kepada bumi itu sendiri.

Apa coba di bumi ini yang tidak kita coba untuk dirusak?

Human beings are a disease A cancer of this planet

Dalam sebuah perspektif mungkin kita menganggap cuaca buruk, serangan binatang liar dan sebagainya sebagai sebuah halangan, rintangan dan gangguan. Tapi to be fair, bagi bumi, we are the cancer. Kita biang penyakit bagi bumi.

“Sekejam-kejamnya binatang, tak mungkin dia tega membunuh anaknya sendiri.” adalah miskonsepsi tentang diri kita dan binatang. Yang bilang demikian mungkin tak pernah memelihara hamster, yang jika kita terlambat memberinya makan, maka sang induk akan mulai memakan anak-anaknya satu persatu. Tapi apa yang dilakukan binatang tersebut murni naluriah, dia kelaparan.

Lain dengan pembunuhan yang dilakukan manusia kepada manusia lain. Dalam level kewarasan tertentu, pembunuhan dilakukan agar tujuan pribadinya terlaksana─atau minimal tidak terhalangi.

Saya kehilangan tujuan menulis ini sejak di paragraf kedua─sebenarnya. Saya terlalu sedih dan putus asa. Jika memang ingin berbuat baik dan mencegah berbuat kerusakan, kenapa kita tak harakiri secara berjamaah dan biarkan jasad kita menyuburkan bumi? Ada ego yang menghalangi.

Saya percaya kita menjadi hina pada detik kita merasa mulia. Kita curang saat kita mulai menjadi yang paling jujur. Kita rusak ketika merasa yang paling baik. Tapi kita hidup hari demi hari seolah-olah kita baik-baik saja. We are sugarcoating our lives. Kita merasa dengan eksistensi kita, hidup orang lain─dan bumi itu sendiri─menjadi lebih baik.

Ya, ignorance alias sikap acuh-tak-acuh memang bagian dari cara otak kita bekerja. Bukankah kita bisa puas menggunakan gadget canggih kita tanpa merasa perlu mencari tahu bagaimana cara kerjanya? Karena otak kita secara otomatis membatasi rasa ingin tahu kita. Minuman yang kita minum, baju yang kita kenakan, cara kerja resleting yang tiap hari kita kenakan, unsur yang dipake dalam pembuatan aspal, bahan bakar kendaraan kita, semua itu tidak kita cari tahu saat mengggunakannya. Kita hanya menjalani saja. Urip mung sakderma ngelakoni, kata orang Jawa.

Dalam berbagai kesempatan, ego, pembatasan rasa ingin tahu dan sikap tak mau peduli adalah anugerah agar kita menjalani hidup secara (secara sosial) waras. Sekali lagi, we are cancer to this earth, we are plague.

Kita makhluk mulia, because we said so, karena kita mempercayainya sepenuh jiwa. Dan mau tak mau kita menjalani hari dengan kemungkinan melakukan kerusakan di muka bumi yang tak bisa dihindarkan. It’s inevitable. Begitu terus, waktu demi waktu. Anggaplah saya pesimis, dan saya akan sangat bersyukur jika saya keliru kali ini.

Kita akan terus melakukan kerusakan, hanya berbeda level sesuai dengan posisi kita dalam komunitas. Hingga pada suatu saat akhirnya kita mati dan umat manusia musnah. Karena tiap segala sesuatu pasti ada akhirnya. Tinggal tunggu waktu. Bicara soal waktu, menutup tulisan putus asa kali ini (dan menahan diri untuk tak menulis soal cinta), saya kutip penggalan lirik lagu band kesukaan saya:

“Time is irrelevant, it’s not linear.”.

1 comment
  1. shamposachet said:

    saya bingung mau komentar apa ditulisan banyak makna ini.
    tulisan ini juga banyak bikin saya ngerasa *DHEG*.

    yasss,
    we are the cancer of this planet😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: