Perikatan, Romansa, Berahi dan Cinta

Selamat malam,

Tuan dan puan, izinkan aku sedikit bercerita. Ini kisahku, tapi mungkin kalian bisa merenungkannya seolah ini adalah kisah yang bisa dikaitkan dengan kehidupan kalian sendiri. Baiklah, pertama aku akan bercerita mengenai romansa.

Romansa bagiku adalah hal-hal yang dilakukan di luar kebiasaan atau membutuhkan upaya lebih dengan tujuan memberi citra diri yang hebat atau menyenangkan. Romansa jelas ada dimana-mana dengan definisi itu. Dalam rumah tangga, pasangan kekasih yang tengah pacaran, ataupun selingkuh, atau sekadar kawan saja tak peduli apapun jenis kelaminnya.

Romansa bisa hadir dengan memberikan bunga, makan malam di tempat istimewa, catatan di kertas kecil yang diselipkan secara rahasia, atau sekadar ucapan selamat ketika ada yang ulang tahun. Romansa hadir agar sesuatu terasa lebih istimewa, apapun tujuannya. Romansa ibarat bumbu dalam masakan, makin lama kita makin mencari bumbu yang lebih terasa nendang di lidah. 

Dan seperti semua hal, lidah akan menjadi lebih manja dan menuntut kadar bumbu yang lebih. Hingga akhirnya terlempar di penghujung hari sambil berujar: “Aku eneg, masakannya terlalu berbumbu! Kita cari yang lebih segar dan sederhana yuk..”.

Aku tak pernah bisa menebak mana yang duluan hadir, cinta atau romansa. Karena romansa bisa hadir duluan hingga lalu cinta menyeruak tanpa sadar dari persembunyian setelah sekian lama. Bisa juga hadir belakangan, berlaku bagi cinta pada pandangan pertama, yang diteruskan dengan tindakan-tindakan romantis yang dimaksudkan untuk membangun romansa bernama cari perhatian.

Bahkan romansa bisa melesat melewati fase jatuh cinta di masa embrio, dia hadir juga ketika cinta sudah cukup matang dan berwujud pacaran, teman tapi mesra, selingkuh ataupun sebuah rumah tangga. Pun membingungkan mana yang sebab dan mana yang akibat. Proses jadian bisa menyebabkan rentetan romansa, akan tetapi romansa sendiri bisa menjadi sebab sebuah hubungan tetap lekat.

Lalu ijinkan aku bicara soal berahi. Ya, berahi. Insting alami manusia nan naluriah itu. Yang hadir ketika kesadaran kita secara sepihak menyatakan bahwa kita sebagai seorang insan adalah makhluk baligh, meskipun secara kejiwaan dan atau sosial kita belum cukup matang alias dewasa.

Bicara soal berahi pun membingungkanku. Apakah berahi ini melulu kebutuhan biologis, atau ada unsur lain di dalamnya.

Jika berahi disederhanakan dengan keinginan menggesek-gesekkan kelamin dengan kelamin yang lain, lantas kenapa berahi bisa tuntas dengan sendirinya tanpa melibatkan intervensi persona lain? Tak bisa juga berahi diterjemahkan dengan ejakulasi atau orgasme belaka, karena berahi bisa luruh tatkala kita membaca besaran tagihan kartu kredit ataupun ketika jagoan politik kita kalah dalam pertarungan.

Jika berahi hanya soal kelamin, kenapa juga kita punya kriteria dengan siapa kita melampiaskannya? Harus gagah atau cantik. Harus bersih lagi wangi.

Dan jangan lantas menyangka bahwa birahi bisa lenyap hanya karena stres atau depresi, karena bisa jadi berahi menjadi meledak-ledak menandak-nandak dalam keadaan tertekan atau bahkan dalam kondisi menjemput ajal.

Dan hal-hal yang menjadi obyek berahi pun membingungkanku. Ada yang bernafsu melihat lawan jenis yang jauh lebih belia ataupun paruh baya. Ada yang suka dengan hanya suka dengan satu warna kulit, ada pula yang antipasti dengan perbedaan ras. Ada yang suka dengan lawan jenis, ada yang melulu birahi dengan yang sejenis.

Apakah kita pernah memilih sendiri tentang apa yang membuat kita berahi? Atau dia hadir begitu saja, dimana suatu hari kita menjadi baligh dan otak kita memberi komando: “Hai kamu, mulai saat ini birahimu menyala tiap kali melihat pagar kayu!”.

Lalu dimana letak sebuah perikatan?

Apakah berahi yang menuntun kita mengejar romansa hingga mengerucut pada sebuah perikatan berbentuk pacaran, selingkuh, TTM ataupun sebuah rumah tangga? Atau malah perikatan itu sendiri yang menjadi awal mula dari rentetan romansa dan pelepas dahaga berahi?

Atau romansa harian yang rutin hadir bak jadual minum obat yang memicu berahi yang baru bisa diselesaikan dalam sebuah perikatan? Lantas salahkah jika romansa dipabrikasi demi kelangsungan perikatan dan atau pemenuhan hasrat berahi? Apakah keliru jika berahi dijadikan alat tawar menawar agar keutuhan perikatan tetap terjaga meskipun romansa keburu mati? Dan apakah jamak sebuah perikatan dipaksakan, romansa dipalsukan dan berahi direndahkan hanya agar terlihat normal?

Dan mau tak mau tulisan ini harus mengerucut pada bahasan soal cinta. Tapi, apakah tuan dan puan percaya jika hendak kubahas perihal asmara? Sedangkan ribuan huruf di atas hanya menampakkan kebingunganku akan segala sesuatu? Tentang ketidakpahamanku akan banyak hal.

Masihkah kalian akan paham dengan apa yang kiranya bisa kusampaikan soal cinta? Silakan baca kembali dari kalimat pertama, lalu tambahkan unsur asmara di tiap bahasan. Membingungkan?

Nah, itu juga yang kurasakan tentang cinta. Kiranya aku adalah pandir nomor wahid soal romansa, berahi, perikatan dan apalagi soal cinta. Jika sempat, dan jika tuan serta puan telah paham benar tentang itu semua, bolehlah kalian mampir ke rumah dan ajari saya. Sebab sudah cukup lama saya menderita dibuatnya.

Sampai jumpa.

1 comment
  1. Sulit bang, sulit dipahami, bahkan ketika telah menjalani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: