Pembohong

KENAPA SAYA HARUS MENJADI TEMAN ANDA? #1

Ini adalah tulisan pertama berisi tentang alasan kenapa saya harus menjadi teman anda, sebagaimana sudah saya tuliskan sebelumnya. Sederhana, segala sesuatu pasti ada alasannya. Termasuk berteman, bukan? Nah, ini adalah alasan ke satu yang akan saya tuliskan untuk anda.

Saya harus menjadi teman anda karena saya adalah seorang pembohong. Pembohong adalah seseorang yang berjarak di antara ucapan-ucapannya sendiri dengan keadaan yang sebenarnya. Dengan definisi tersebut, saya adalah seorang pembohong. Pembohong yang mahir luar biasa dengan jam terbang lebih dari tiga puluh tahun. Boleh diuji!

Misalkan anda mengenali wajah saya di keramaian namun hubungan kita tidak terlalu dekat, cobalah sapa saya, ajak bersalaman dan tanyakan kabar saya. Niscaya saya akan menjawab bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja. Padahal saya yakin bahwa saya menjawab pertanyaan tersebut tanpa pikir panjang dan bahkan tidak memedulikan pertanyaan anda.

CJXjaM_UMAAvMZg

Ya, anda bisa menyebut jawaban saya tersebut sekadar basa-basi belaka. Nyatanya memang demikian. Tak lebih. Itu artinya saya asal menjawab. Saya menjawab tapi tidak sungguh-sungguh menjawab. Yang bisa diartikan dengan berbohong. Bibir saya berkata sesuatu yang tanpa dipikirkan baik-baik dan menyuruh anda untuk meyakininya sebagai sebuah kebenaran. Itu kebohongan bukan?

Dan itu baru satu contoh. Banyak lagi kepura-puraan yang sering saya lakukan. Misalkan Ibu saya menelpon membutuhkan uang mendadak, saya akan langsung cari utangan jika perlu ketika tak pegang uang dan mantap menjawab ke Ibu saya dengan: “Siap, bu! Ada, tenang saja.”

Bohong sudah menjadi kebiasaan saya sejak kecil. Konon anak kecil mulai mengerti konsep bohong sejak usia 4 tahun, entah ebnar entah tidak. Maka saya sudah berbohonga begitu banyak hal selama hampir 30 tahun. Luar biasa bukan? Wes ta lah, sudah jangan kuatir, kemampuan saya soal berbohong bukan isapan jempol belaka.

Belum lagi kalau shalat, sering kali bilangnya: “Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil’aalamiin..” padahal belum tentu lho. Belum teruji bahwa shalat saya, ibadah saya, hidup dan mati saya hanya semata-mata demi Tuhan, tapi berani-beraninya saya bilang demikian.

Belum lagi kalau saya adigang-adigung-adiguna dan gembelengan di hadapan sesama makhluk merasa paling bener, apa ndak ngapusi itu? Padahal setiap shalat saya bilang saya Tuhan: “Tunjukilah jalan yang lurus!”, dimana hanya yang merasa tersesatlah yang minta petunjuk jalan lurus, bukan? Tapi dasarnya saya bohong, saya akan bilang apa saja asal sesuai dengan mau saya.

Kebohongan sudah mengakar kuat, dan mudah saya lakukan dengan terampil dan ditaburi dengan muka tak bersalah serta senyum merekah jika perlu.

Kembali lagi, jika anda ketemu saya di tempat umum, coba sapalah…tunggu itu basa-basi juga kan ya? Bahwa seseorang menyapa orang lain di tempat umum banyak yang sekadar menggugurkan kewajiban protokol sosial, jelas banyak yang sepakat. Pertanyaan “Apa kabar?” sering kali tidak penting benar apakah yang ditanya baik-baik saja atau tidak. Kita berkata-kata tapi tidak bicara. Jangan-jangan kita sudah nir makna sejak uluk salam yang kita lemparkan? Padahal, apa yang lebih berat dari mengucap “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuhu!“, coba?

Karena salam tersebut semacam ikrar bahwa yang disalami itu dijanjikan keselamatannya dari segala tindak aniaya oleh pemberi salamnya tadi. Juga ditambahi doa agar yang diberi salam senantiasa diberi rahmat dan berkah dari Tuhan. Wah jikalau itu bohong maka celaka benar kita ini.

Kemudian saya jadi sadar, kita tak beda jauh. Sama-sama pembohong. Jadi, pantaslah saya menjadi teman anda!

4 comments
  1. Muthe said:

    Kalo kata Sheldon dan emaknya Leonard : we hate social convention. :))

    • “The social sciences are largely hokum. But short of putting electrodes in your brain and monitoring your response to my companionship, this is the best I can do.”

      • Muthe said:

        sticking electrodes on my brain? really, Pai, really? :p

        -anyway, then if all of us are liar, then where we can find the truth?-

      • We believe what we want to believe, anyway..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: