Canggung

KENAPA SAYA HARUS MENJADI TEMAN ANDA? #2

Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan makhluk lain agar eksistensinya maksimal di bumi ini. Konon sih begitu. Benang merahnya adalah “membutuhkan” dan “maksimal”. Maka melulu hidup itu soal mencari yang sesuai dengan kebutuhan kita. Sedang maksimal sering disebut dengan kesuksesan, yang tolok ukurnya berbeda-beda satu individu dengan lainnya.

Lucunya agar sukses, manusia kadang menjegal sesamanya, yang berarti menghianati klausa “membutuhkan”. Atau jangan-jangan penghianatan, penjegalan dan yang setara dengan itu juga masuk definisi membutuhkan. Logikanya sederhana, untuk bisa menghianati tentu kita butuh individu lain, bukan?

Socially_Awkward

Kebingungan saya makin bertambah ketika ketidaksesuaian antara definisi dengan praktek di lapangan dilakukan secara berjamaah dan dinamai budaya. Saya sering merasa tidak menjadi bagian dari kelompok manapun. Karena itulah saya suka menyendiri. Saya tak pernah takut disakiti manusia lain, saya justru lebih takut sayalah yang akan menyakiti manusia lain karena cara pandang saya yang seringkali berbeda dengan milik orang kebanyakan.

 Anda boleh tertawa dan menertawakan saya, tapi satu-satunya alasan saya percaya bahwa alien itu ada adalah kenyataan bahwa saya tidak bisa membaur dengan orang lain sepenuhnya. Sering saya berandai-andai bahwa ada alien yang berkunjung ke bumi dan saya ditugaskan untuk semacam mempelajari kehidupan manusia di bumi. Dan gagal.

Entahlah, saya memang terlampau bodoh untuk mengerti tentang bagaimana menjadi manusia seperti layaknya manusia sungguhan. Saya sudah mencoba melakukan hal-hal seperti yang diajarkan oleh orang tua maupun pengajar, tetap saja di dalam hati, saya bukanlah orang yang dimaui mereka.

Canggung adalah nama tengah saya, dan sejatinya saya tak punya nama belakang. Tapi canggung selalu mengikuti saya kala mencoba berinteraksi dengan manusia lain. Ya, saya menggunakan kata manusia karena berinteraksi dengan kucing atau harimau sekalipun ternyata jauh lebih mudah dibanding dengan manusia.

Dengan kucing, dalam keadaan normal, saya bisa begitu saja mendatanginya dan mengajak bermain atau sekadar menawarinya makan. Lain dengan interaksi dengan harimau, memberinya makan pun harus ekstra hati-hati. Dan lari merupakan pilihan paling masuk akan ketika berhadapan dengan harimau.

Nah, ketika berinteraksi dengan manusia ini yang rumit, setidaknya untuk saya. Apakah saya harus mendekat, menjauh atau menjauh agar mendekat atau sebaliknya mendekat agar menjauh. Membingungkan. Peduli bisa dianggap ikut campur. Memberi kesempatan bisa dianggap tak peduli. Hormat bisa dicap menjilat. Sungguh-sungguh saja bisa dianggap sekadar menjalankan protokol sosial. Ya pokoknya begitu, beda kepala bisa beda penafsiran.

Makanya kadang saya berpikir sebaiknya hidup tidak perlu untuk ditafsirkan rumit-rumit. Makin banyak kepala yang menafsirkan, niscaya akan makin rumit.

Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya (Rumah Kaca, h. 46)”.
Pramoedya Ananta Toer

Nah, jika anda juga secanggung saya, maka saya pantas dan layak untuk menjadi teman anda.

1 comment
  1. Muthe said:

    Coba kirim sinyal, siapa tau kapal induk makhluk Anda akan segera menjemput. Yes?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: