Kereta Api

KENAPA SAYA HARUS MENJADI TEMAN ANDA #3.

Apa moda transportasi kesukaanmu? Pesawat, bus, kapal atau kereta api? Saya adalah penyuka kereta api sejak kecil. Kereta api begitu memesona saya. Tentang bagaimana gerbong demi gerbong bergerak teratur berurutan, tak berdesak-desakan maupun saling menyalip. Tentang bagaimana kereta bergerak anggun meski dengan kecepatan tinggi.

Bagi saya, kereta sangatlah mengagumkan. Begitu banyak ketidakjelasan di dalam hidup, dan kereta api menawarkan (sedikit banyak) kepastian. Kepastian di sini bukan soal jam keberangkatan dan atau jam tiba, tapi soal rute mana yang diambil.

Berbeda dengan bus, kereta api tak banyak melakukan manuver, tak perlu menyalip atau berebut penumpang. Dan panjang perjalanan tak banyak ditentukan oleh keahlian pengendalinya, karena kereta berjalan di atas rel. Untuk mendahului kereta yang lain, maka kereta yang lain haru besedia berhenti sejenak dan kemudian disalip. Teratur dan beradab.

Tapi itu saya, anda boleh punya hobi moda transportasi lainnya.

Tahukah anda bahwa kereta api lebih disukai oleh penderita autis dan sindrom asperger?

Sindrom asperger ditemukan oleh psikolog Austria pada tahun 1944 bernama Hans Asperger. Sindrom ini merupakan ganguan neurobiologis (neuro transmitter) dan gangguan autisme yang dapat menjangkiti anak-anak maupun orang dewasa.

Sindrom ini tidak bersifat sebagai penyakit turunan dan biasanya terjadi akibat trauma, penyakit atau struktur otak yang abnormal.

Saya, dipercaya sebagai pengidap sindrom ini, adapun jumlah pengidap sindrom ini adalah 4 : 10.000, jadi bisa dibilang para pengidapnya itu istimewa.

image

Lantas, apa ciri-ciri sindrom asperger? Secara sembarangan, maklum saya tak punya kemampuan akademis untuk menjelaskannya secara teoritis dan teruji secara ilmiah

1. Penderita Asperger memiliki masalah dengan kontak mata, mereka kesulitan untuk melakukan kontak mata dengan orang lain.

2. Karena adanya gangguan pada syaraf motorik, banyak penderita asperger mempunyai gerakan tubuh yang aneh, seperti gaya berjalan yang kaku dan canggung. Alhamdulillah, saya punya gaya jalan bak superhero.

3. Terobsesi pada pengulangan dan takut pada perubahan. Terobsesi pada pengulangan dan takut pada perubahan. Terobsesi pada…ah sudahlah!

4. Cenderung memiliki gangguan interaksi sosial serta sering memiliki kepribadian eksentrik. (Yang kenal saya di dunia nyata langsung pasang tampang paham dengan muka bermakna: “Pantasan!”)

5. Gaya bicara cenderung formal, mengartikan banyak hal secara harafiah dan sukar memahami sindiran.

6. Menarik diri secara sosial yang meliputi menyendiri, acuh tak acuh, kurangnya minat pada orang lain, kurangnya empati, berpikir satu arah, dan berpikir kaku. (Oke, diri saya yang sekarang jauh lebih baik, bukan?)

Dari sedemikian banyak ciri-ciri sindrom asperger, kiranya enam hal di atas yang bisa ditemukan pada diri saya, yang sukar saya sembunyikan.

Sebentar, lalu dengan gangguan neurotransmitter seperti ini, bagaimana saya bisa meyakinkan anda untuk menjadi teman saya?

Entahlah, saya juga bingung. Minimal jika anda suka kereta api, saya siap menjadi teman anda.

9 comments
  1. Muthe said:

    Woh! Saya pun menyukai kereta api.. tut tut tuuutt… berbeda rasanya naik kereta api dengan kendaraan yang lain. Ih ngomong2 Asperger jadi ingat serial House M.D :))

    • Ya, baru kepikiran soal House, harusnya saya masukin sebagai referensi.

      • Muthe said:

        Tuls! Dia mah Asperger tulen keknya. Atau Asperger wannabe :p

      • Tulen? Tulenan yg buat alas motong?

    • Damn it! Kenapa kaku gitu, harusnya pake ‘eike’!!!

      • Muthe said:

        Book, belum jam 12 malam, setelah belum berubah jadi “eike”

      • Baik, ummi..

      • Muthe said:

        vomit

  2. Dulu pas masuk semester awal kuliah gaya gw dari bicara sampe masak kaku banget. Nggak bisa bedain mana mrica mana ketumbar. Pas masak nasi goreng udah yakin itu ketumbar. Eh tetep aja meksain biar kelihatan “modifikasi rasa” . Nah dari situ setidaknya ada upaya untuk mencoba jadi normal.

    Tapi dalam perjalanan waktu, lagi² kebiasaan ‘pemaksaan” itu kian terulang. Entah pas lagi ngomong atopun waktu mau berangkat keluar rumah musti keluar-masuk mondar mandir mirip kek orang nungguin istri lahiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: