Silat Lidah

Pernahkah kita serius memikirkan apapun yang hendak kita ucapkan dan atau tuliskan? Maksudnya, jangan-jangan, seperti halnya saya, tak pernah benar-benar meluangkan waktu untuk sejenak memikirkan tentang segala hal yang hendak dibicarakan, ditanyakan, di utarakan dan dibahas, baik dalam media lisan maupun tulisan.

Semakin berumur, saya makin kesulitan membedakan mana ucapan yang sungguh-sungguh, dan mana yang tidak. Dan ucapan yang tidak sungguh-sungguh pun menyisakan kesulitan baru untuk saya membedakannya, mana yang candaan dan mana yang murni kebohongan.

article-0-142F6B5A000005DC-277_634x459

Siang ini, saya makan di sebuah warung, selain saya hanya ada tiga pengunjung lain. Mereka semua ibu-ibu. Sepanjang yang saya dengar, mereka tengah membicarakan tentang kenalan mereka yang tengah dilanda kesulitan keuangan. Bahkan sependengaran saya, teman mereka itu berurusan dengan debt collector, rumah pun hendak disita oleh bank.

Apa yang menarik bagi saya?

“Saya sih bukannya sok ngerti ya bu, tapi memang si anu dan suaminya itu dari dulu memang hidupnya gitu, pura-pura kaya.”, ujar salah satunya.

Lalu ditimpali satunya dengan semangat membara yang sebelas dua belas.

“Iya, dulu bahkan saya pernah nasehatin pas si anu beli kalung emas, bukannya saya ikut campur, tapi saya bilang akan lebih baik kalau mereka nabung saja daripada beli perhiasan kan? Kan?”

Sementara ibu yang satu sibuk menyantap makanannya di piring.

Tentu obrolan macam ini jamak kita dengar, bukan? Kalimat yang menghakimi tapi dibalut klausa “Bukannya saya sok tahu..”, atau kalimat yang jelas-jelas menunjukkan keterlibatan namun diselimuti dengan: “Bukannya ikut campur…”. Seperti sepasukan ninja yang lari menerjang lawan, di kepala saya lantas muncul “Bukannya mau menasehati…”, “Ini bukan nggosip lho ya…”, “Saya sih ndak peduli, tapi…” dan lain sebagainya.

Komunikasi memang sangat rumit. Setidak-tidaknya buat saya. Rumit luar biasa. Contohnya Ibu-ibu tadi, jelas-jelas yang satu itu sok tahu dan yang satunya ikut campur, tapi kenapa bilang sebaliknya?

Tapi kemudian saya merenung sambil berusaha keras mengunyah makanan saya sendiri, bukankah kebanyakan dari tindakan kita sehari-hari juga demikian? Dan sudah menjadi semacam cara untuk bertahan diri?

Saya sering melakukan kesalahan yang kemudian saya yakin-yakinkan diri saya sendiri bahwa saya ndak salah. Tidak mengubah sesuatu memang, tapi ada semacam rasa kepuasan ketika kita mampu meyakinkan diri kita kebalikan dari yang sebenarnya.

Penyangkalan ini banyak caranya, dan yang paling membuat saya sering ingin muntah adalah ketika menyangkal sesuatu dengan mencari hikmah lain. Contoh:

“Iya tadi ayah salah menerobos lampu merah, tapi kamu bakal telat kalo kita berhenti nunggu lampu merah jadi hijau. Kamu sih mandinya lama!”, ujar saya suatu hari ketika mengantar anak saya ke sekolah. Luar biasa bukan? Demi mendapat ilusi bahwa yang saya lakukan itu benar, saya korbankan anak saya dan bahkan menyalahkannya atas kejadian saya nerobos lampu merah.

Saya lalu jadi mikir, jangan-jangan semua lini kehidupan isinya begitu. Termasuk mereka yang mencuri, menjarah, merampok dan bahkan korupsi. Jangan-jangan jauh di dalam benak mereka, mereka yakin benar bahwa mereka tidak salah-salah amat.

Kurang yakin?

Bukankah jamak bagi kita untuk berpikir bahwa ketika ada kasus perkosaan kita juga mencari-cari kesalahan dari korban? Entah bajunya atau kelakuannya. Sehingga sang pemerkosa banyak yang merasa mereka tidak 100% salah.

Bukannya sok bijak, semoga saya salah!

5 comments
  1. Muthe said:

    “Semakin berumur, saya makin kesulitan membedakan mana ucapan yang sungguh-sungguh, dan mana yang tidak. Dan ucapan yang tidak sungguh-sungguh pun menyisakan kesulitan baru untuk saya membedakannya, mana yang candaan dan mana yang murni kebohongan.” –> karena semakin berumur, manusia semakin merasa perlu untuk memberikan bumbu pada apa yang diucapkan. Semakin merasa perlu untuk membalut-balut kejujuran dengan sedikit drama di sana-sini. Semakin berumur juga manusia merasa perlu untuk membantah, untuk menangkis, dan untuk menghindar.

  2. kayaknya dulu ada yg bilang, diperkosa itu atas dasar suka sama suka deh… lah enaakk yen kui

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: