Obyektifikasi

Kemarin adalah hari Kartini. Hari nasional yang ndak termasuk hari libur, yang sudah dirayakan entah sudah berapa kali tiap tahunnya, dengan pemaknaan yang berbeda-beda oleh tiap individu, selain yang diajarkan lewat bangku sekolah dan kemungkinan-kemungkinan penafsiran berbau intelektual tentangnya ketika diperlukan.

Buat saya pribadi, yang pertama terlintas di benak saya ketika hari Kartini, adalah kebaya. Ya, sedangkal itu saya ini. Memang, saya bisa menemukan penafsiran tentang perjuangan Kartini di mana-mana, di koran, di majalah, di artikel internet atau akun-akun sosial media kawan-kawan saya.

Tafsirnya banyak dan makin banyak seiring berjalannya waktu. Mulai dari perjuangan beliau yang ingin agar perempuan di lingkungannya bisa memperoleh akses pendidikan, sampai soal beliau yang dikisahkan menjadi pendobrak nilai-nilai yang dikuasai laki-laki. Dan lain sebagainya. Dan itu lebih banyak diketahui dari buku yang disusun dari kumpulan surat-menyurat Kartini dengan sahabat penanya.

Jadi, singkatnya, Kartini saat itu sudah main sosmed. Tanpa mengurangi rasa hormat bagi Kartini dan penggemarnya (baik yang sejati maupun musiman), kalau bicara soal peran bagi bangsa dan negara ini, ada banyak contoh perempuan lain yang juga tak kalah (atau malah lebih) hebat selain Kartini. Jika sering membaca sejarah, tentu anda-anda akan tahu banyak tokoh perempuan yang punya andil bagi negara dan bangsa ini tapi kurang panggung.

Saya tidak akan menulis soal siapa yang lebih hebat dan siapa yang lebih berkorban bagi nusa dan bangsa. Tidak. Saya ingin menulis soal obyektifikasi.

13015301_10154769693217501_5995053336556706048_n

Kemarin saya ikut membagikan gambar salah satu pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang dijuluki “Jurusita Pajak Perempuan Termuda DJP”, yang cukup viral dan ramai dibahas oleh orang-orang. Dan kebetulan saya mengikuti beberapa grup WhatsApp dan memantau sekilas akun-akun sosial media teman-teman saya yang membahas soal itu.

“Cantik ya…”, adalah respon yang jamak.

Tapi tak berhenti sampai di situ, saya lalu menjumpai komentar yang menyatakan bahwa gambar itu adalah obyektifikasi perempuan. Apa itu obyektifikasi perempuan? Fredrickson dan Roberts melangsir Objectification Theory pada tahun 1997 yang pusat dari teori ini ada pada: “…that women exist in a culture which their bodies are ‘looked at, evaluated, and always potentially objectified.”

Intinya, sebuah bahwa di dunia ini perempuan menjadi penyedap mata kaum laki-laki dan jauh daripada itu, perempuan hanya dinilai dari tampilan luarnya tanpa terlalu dipedulikan soal kehidupannya, cita-citanya, kepandaiannya dan isi hatinya.

Dan menurut beberapa kawan di grup WhatsApp yang saya ikuti, kasus foto jurusita pajak perempuan termuda itu juga obyektifikasi.

Ada yang komentar: “Coba jilbabnya lebih lebar, pakaiannya lebih longgar dan tanpa riasan, pasti lebih sejuk..”, atau: “Eh aku udah cek foto di database kepegawaian kok, itu hasil riasan aja…”. Yang kemudian dibantah: “Aku udah cek di akun facebook-nya kok, emang cakep!!”. dan ini komentar dari kaum hawa.

Komentar dari sisi laki-laki tentu bisa ditebak. Rata-rata sih menggunakan istilah yang ada sangkut-pautnya dengan penagihan pajak. Macam: “Sita aku, Dik!!! Sita aku!!!”.

Dan saya belum lupa, belum lama ini saya mendapati pertanyaan: “Kok gak ada ya jurusita perempuan? Kayaknya akan lebih luwes kalau melakukan penagihan deh…”. Dan ini keluar dari mulut perempuan juga.

Kalau ditarik lebih jauh lagi, tengoklah video game. Dulu sempat diprotes karena minimnya karakter perempuan di sana yang dianggap makin mengukuhkan dominasi laki-laki di dunia. Kemudian muncul anggapan bahwa penokohan perempuan di video game lebih mengukuhkan dominasi laki-laki karena dianggap karakter perempuan hanya sebagai pelengkap, digambarkan lebih lemah dan hadir dalam visualisasi yang penuh dengan obyektifikasi.

Ketika muncul tokoh video game yang tangguh lagi mumpuni, dikritik juga bahwa selain obyektifikasi dari segi fisik, penokohan semacam itu semacam mematok standard yang kelewat tinggi bagi perempuan untuk bisa mencapainya, yang dikuatirkan akan mengajarkan hal yang keliru bagi anak remaja laki-laki. Begitu dan seterusnya.

Intinya mereka tidak suka jika perempuan hanya menjadi obyek, tanpa ditilik pencapaian hidupnya, apa prestasinya, passion-nya dan lain sebagainya.

Ketika makan di warteg, yang biasanya sangat susah untuk sekadar antri, maka berlaku hukum rimba, siapa cepat dia dapat. Dan ketika ada orang lain yang tidak saya kenal (stranger) yang punya tujuan yang sama dengan saya yaitu mendapatkan makanan, maka saya akan melakukan obyektifikasi terhadap dia. Fokus saya adalah bagaimana saya harus mendapatkan makanan.

Tentu saya tidak peduli siapa dia, apa pencapaian hidupnya, bagaimana prestasi akademiknya dan lain-lain. Ini soal kepraktisan saja. Tidak lantas saya tidak menganggapnya sebagai manusia. Hanya saja tiap berinteraksi dengan orang lain yang asing, maka saya tidak akan sudi untuk selalu kenalan dulu, mencoba menyelami kisah hidupnya, mencoba memahami idealismenya dan lain-lain. Itu gila!

Tidak lantas juga saya tidak menganggap orang asing tersebut jadi berkurang kemanusiaannya. Dia tetap saya anggap punya hak yang sama dengan saya. Yang berbeda hanya kadar interaksi dan level kepedulian saya mengenai dia saja.

Pun ketika saya melihat perempuan cantik di jalan, misalnya. Maka saya akan melakukan pemantauan sekilas dan kemudian mengagumi keindahan yang saya jumpai itu. Apa saya harus memikirkan mengenai prestasi dia di kampus atau tempat kerja, tentang keluarganya, tentang tempat tinggalnya atau minimal namanya tiap kali saya melihat perempuan cantik?

Masalahnya, sepanjang hayat, saya menjumpai begitu banyak perempuan cantik. Dan kebanyakan durasi saya dengan mereka hanya sekadar lihat, mengagumi dan kelar. Tidak lebih. Kebanyakan.

Tentu ini obyektifikasi jika merujuk pada definisi yang diamini banyak orang, bukan? Tapi sumpah mati, saya tak pernah mengalami kebingungan hingga melakukan kesalahan, menganggap perempuan cantik yang saya jumpai di jalan sebagai bukan manusia, sebagai pohon, tong sampah atau sebagai boneka alat bantu seks yang sedia tiap saat guna kepuasan pribadi saya. Alhamdulillah ini belum pernah terjadi.

Bicara soal seksualitas, laki-laki memang makhluk visual, yang bisa mempunya ketertarikan seksual terhadap lawan jenis dalam hitungan detik, hanya dari apa yang nampak oleh indera kami.

Dan apa salahnya mengagumi kecantikan perempuan untuk lalu tertarik secara seksual? Bedakan lho ya tertarik secara seksual dengan melakukan aktifitas seksual. Dan jamak terjadi bagi laki-laki untuk membayangkan perempuan cantik secara seksual, kemudian masturbasi. Tak ada yang bisa kalian lakukan soal itu. Ini kepala kami.

Atau bersenggama dengan pasangan sembari membayangkan perempuan lain. Kami tak bisa dipenjara karena itu bukan? Ini ada di kepala kami.

Akan beda kasusnya ketika saya, misalnya, naksir perempuan lalu tiba-tiba membuka resleting celana saya dan melambai-lambaikan kemaluan saya ke arahnya. Atau ujug-ujug nampar pipi wanita seksi, dengan penis saya. Beda kasus.

Konsep bahwa laki-laki adalah makhluk visual yang bisa tertarik dengan lawan jenis dalam hitungan detik, dan di pihak lain perempuan jauh lebih kompleks dari itu, ada faktor kenyamanan, keamanan dan lain-lain, agaknya susah diterima banyak orang. Banyak yang salah tafsir, bahwa dengan hanya melihat lekuk tubuh perempuan lalu lelaki menjadi tertarik, lantas laki-laki dianggap tak menganggap wanita sebagai manusia, hanya obyek semata.

Padahal itu terjadi dalam sekian detik saja bagi laki-laki merasa tertarik dengan lawan jenis. Tapi untuk jatuh cinta dan atau ingin menjalin hubungan dengan lawan jenis, butuh lebih dari itu.

Dan sebaliknya, apakah pihak perempuan tidak melakukan obyektifikasi atas laki-laki?

Kemarin saya melihat salah satu postingan kawan saya, perempuan, tentang bahwa membaca itu seksi. Tapi isi postingan tersebut berupa album foto puluhan laki-laki tampan, berbadan tegap dan rata-rata berbulu rapi di wajah, yang tengah membaca (atau setidak-tidaknya nampak demikian) dengan berbagai gaya dan berbagai lokasi.

Pertanyaan saya sederhana, jika modelnya tak ganteng, tak tegap dan tak gagah, apakah masih seksi? Bagaimana jika laki-laki jelek yang membaca?

Ah, saya lupa bahwa saat ini pun sebisa mungkin kita tak boleh melabeli orang dengan istilah jelek. Bukan jelek, tapi tidak menarik atau bukan tipe saya. Eufimisme. padahal maknanya sama.

Sama halnya nasehat popular: “Jangan nge-judge donk!!” yang diamini kebanyakan dari kita, yang kita lupa bahwa dalam hidup sehari-hari, segala keputusan yang kita buat, mulai dari rumah mana yang kita beli, jenis mobil apa yang mau kita miliki, sampai menu makanan yang mau disantap pun melalui proses judgement.

Anda boleh tidak setuju dengan tulisan saya kali ini, tapi coba, sempatkan untuk pikirkan lagi. Pelan-pelan. Selamat hari Kartini.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: